Model-Model Evaluasi
Kurikulum
Perkembangan model untuk evaluasi kurikulum memperlihatkan suatu gejala yang
tidak berbeda dengan perkembangan disiplin ilmu pendidikan dan upaya-upaya
pendidikan yang pernah dilakukan manusia. Meskipun demikian, sejarah
perkembangan bidang evaluasi kurikulum dan kemudian menghasilkan model-model
evaluasi kurikulum memperlihatkan sesuatu yang khas. Perkembangan berikutnya
memperlihatkan fenomena lain dimana model-model evaluasi kurikulum tadi
dikembangkan secara khusus baik secara individual(Provus model) maupun secara
kelompok (CIPP). Pada dasarnya model-model evaluasi kurikulum dikelompokkan
dalam tiga kategori utama, yaitu
1.
Model Evaluasi Kuantitatif
Model kuantitatif ditandai oleh ciri yang menonjol dalam penggunaan prosedur kuantitatif
untuk mengumpulkan data sebagai konsekuensi penerapan pemikiran paradigm
positivistis. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, paradigma positivisme
menjadi tradisi keilmuan dalam evaluasi terutama melalui tradisi psikometrik.
Tradisi psikometrik menekankan penggunaan prosedur dan alat evaluasi
berdasarkan prosedur yang dikenal pengukuran dan metodologi positivistik.
a.
Model Black Box Tyler
Model tyler dinamakan Black Box karena tidak ada nama resmi yang diberikan oleh
pengembangnya. Model ini dibangun atas dua dasar, yaitu : evaluasi yang
ditujukan kepada peserta didik dan evaluasi harus dilakukan pada tingkah
laku awal peserta didik sebelum suatu pelaksanaan kurikulum serta pada saat
peserta didik telah melaksanakan kurikulum tersebut. Evaluasi kurikulum yang
sebenarnya hanya berhubungan dengan hasil belajar. Evaluasi terhadap kurikullum
sebagai kegiatan tidak dimasukkan dalam ruang lingkup evaluasi kurikulum oleh
Tyler.
Pada dasar evaluasi yang kedua, harus dipertimbangkan tingkah laku yang
bagaimana yang harus diperlihatkan peserta didik sesuai dengan materi yang
dipelajarinya. Disini, evaluator dituntut untuk mengembangkan kisi-kisi
tujuan yang akan dievaluasi dalam tabel dua dimensi, dimensi tingkah laku dan dimensi
materi. Alat evaluasi dapat berbentuk tes dan alat ini adalah alat yang banyak
digunakan orang. Guru dituntut merumuskan tujuan belajar yang harus dicapai
peserta didik dalam bentuk behavioral objectives. Sebagai hasilnya maka
muncullah taksonomi tujuan pendidikan yang dikembangkan Bloom dan kawan-kawan.
Taksonomi tujuan pendidikan dapat memberikan arahan bagi perencanaan hasil
belajar yang terukur.
Model Tyler tidak memberikan perhatian mengenai proses yang terjadi di antara
kedua tes tersebut, dan oleh karena itu model Tyler dikenal namanya dengan
black box. Apabila model ini dagunakan dengan desain eksperimen, maka bagian
proses mungkin saja terjadi sesuai yang diharapkan kurikulum. Tetapi ketika
digunakan desain penelitian deskriptif dan proses yang terjadi tidak
dievaluasi, ada kemungkinan apa yang terjadi pada peserta didik tidak seperti
yang dirancang kurikulum. Karena itu bagian proses ini dianggap sebagai kotak
hitam yang menyimpan segala macam teka-teki.
Dalam pelaksanannya ada tiga prosedur utama yang harus dilakukan, yaitu :
1.
Menentukan
tujuan kurikulum yang akan dievaluasi.
2. Menentukan
evaluasi dimana peserta didik akan mendapatkan kesempatan untuk memperlihatkan
tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan.
3.
Menentukan
alat evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur tingkah laku peserta didik.
b. Model Teoritik Taylor dan
Maguire
Seperti tersurat dalam judulnya model Taylor dan Maguire ini lebih mendasarkan
dirinya pada pertimbangan teoritik suatu model evaluasi kurikulum. Meskipun
demikian hal ini tidak berarti bahwa pertimbangan praktis tidak diberikan dalam
menerapkan beberapa langkah model tersebut.
Model ini dikemukakan dalam versinya yang utuh. Dalam menggunakan model ini,
secara tegas ada dua kegiatan utama yang harus dilakukan evaluator. Pertama,
mengumpulkan data objektif yang dihasilkan dari berbagai sumber mengenai
komponen tujuan, lingkungan, personalia, metode dan konten, serta hasil
belajat, bbaik hasil belajar langsung maupun hasil belajar dalam jangka
panjang. Data itu dikatakan data objektif karena mereka berasal dari luar
pertimbangan evaluator. Kedua, pengumpulan data yang merupakan hasil
pertimbangan individual terutama mengenai kualitas tujuan, masukan, dan hasil
belajar. Unsur-unsur ini yang sebenarnya merupakan variable model ini,
dimasukkan dalam suatu diagram yang terdiri atas 4 matriks, yaitu tujuan,
penafsiran, strategi, dan hasil belajar.
Cara kerja model ini dimulai dari adanya keinginan tertentu dalam masyarakat.
Selanjutnya, keinginan tersebut memanifestasikan dirinya berupa tekanan-tekanan
atau tuntutan terhadap pendidikan. Tekanan / tuntutan masyarakat ini
dikembangkan menjadi tujuan. Tujuan dari masyarakat tadi dikembangkan menjadi
tujuan yang ingin dicapai oleh kurikulum.
c. Model Pendekatan Sistem Alkin
Alkin termasuk salah seorang yang aktif dalam evaluasi. Pendekatan yang
dilakukannya memiliki keunikan dibandingkan pakar evaluasi lainnya dimana ia
selalu memasukkan unsure pendekatan ekonomi mikro dalam pekerjaan
evaluasi. Dalam model yang dinamakannya dengan pendekatan systems (systems
approach) Alkin telah memasukkan variable perhitungan ekonomi dalam modelnya.
Dalam masa-masa kemudian bahkan ia banyak menggunakan pendekatan ekonomi mikro
yang lebih murni dalam evaluasi yang dilakukannya.
Model ini digambarkan atas empat asumsi, yaitu :
1.
Variable
perantara, satu-satunya variable yang dapat dimanipulasi.
2.
Sistem luar
tidak langsung dipengaruhi oleh keluaran sistem (persekolahan).
3.
Para
pengambil keputusan sekolah tidak memiliki kontrol mengenai pengaruh yang diberikan
tas sistem luar terhadap sekolah.
4.
Faktor
masukan mempengaruhi aktivitas faktor perantara dan pada gilirannya faktor perantara
berpengaruh terhadap faktor keluaran.
Keempat asumsi tersebut harus terpenuhi sebelum model Alkin
dapat digunakan.
D. Model Countenance Stake.
Model countenance adalah model pertama evaluasi kurilulum yang dikembangkan
Stake. Pengertian countenance adalah keseluruhan, sedangkan pengertian lain
adalah sesuatu yang disenangi (favourable).
Stake mendasarkan modelnya pada evaluasi formal, suatu kegiatan evaluasi yang
sangat tergantung pada pemakaian “checklist, structured visitation by peers,
controlled comparisons, and standardized testing of students” (Stake, 1972 ;
93). Model ini mempunyai keyakinan bahwa suatu evaluasi haruslah memberikan
deskripsi dan pertimbangan sepenuhnya mengenai evaluan.
Model Countenance Stake terdiri atas dua matriks. Matriks pertama dinamakan
matriks Deskripsi dan yang kedua dinamakan Matriks Pertimbangan. Matriks
pertimbangan baru dapat dikerjakan oleh evaluator setelah matriks Deskripsi
diselesaikan. Matriks Desktripsi terdiri atas kategori rencana (intent) dan
observasi. Matriks Pertimbangan terdiri atas kategori standard dan pertimbangan.
Pada setiap kategori terdapat tiga fokus, bahwa setiap evaluasi harus
memberikan perhatian terhadap keadaan sebelum kegiatan kelas berlangsung
(antecendents), ketika kegiatan kelas berlangsung (transaksi), dan
menghubungkannya dengan berbagai bentuk hasil belajar (out comes)
1.
Matriks
Deskripsi
Kategori
pertama adalah sesuatu yang direncanakan pengembang kurikulum atau program.
Dalam konteks KTSP, kurikulum tersebut adalah kurikulum yang dikembangkan atau
digunakan oleh satu satuan pendidikan. Sedangkan program adalah silabus dan
Rencana Program Pengajaran (RPP) yang dikembangkan guru. Guru sebagai
pengembang program merencanakan keadaan/persyaratan yang diinginkannya untuk
suatu kegiatan kelas tertentu. Misalnya yang berhubungan dengan minat,
kemampuan, pengalaman,dan lain sebagainya dari peserta didik.
Ktegori
kedua dinamakan observasi, berhubungan dengan apa yang sesungguhnya sebagai
implementasi yang diindinkan pada kategori yang pertama. Ktegori ini juga
sebagaimana yang pertama terdiri atas antecendents, transaksi , dan hasil.
Evaluator harus melakukan observasi (pengumpulan data) mengenai antecendents,
transaksi , dan hasil yang ada di suatu satuan pendidikan.
2.
Matriks
Pertimbangan
Terdiri
atas kategori standard an pertimbangan, dan fokus antecendents, transaksi, dan
outcomes (hasil yang diperoleh). Standar dapat dikembangkan dari karakteristik
yang dimiliki kurikulum, tetapi dapat juga dari yang lain (pre-ordinate,
mutually adaptive, proses).
Kategori
kedua adalah kategori pertimbangan. Kategori ini menghendaki evaluator
melakukan pertimbangan dari apa yang telah dilakukan dari kategori yang pertama
dan kedua matriks Deskripsi sampai kategori pertama matriks Pertimbangan. Suatu
evaluasi harus sampai kepada pemberian pertimbangan.
Keseluruhan
matriks yang mendukung model Stake ini terdiri dari 12 kotak. Secara
keseluruhan model ini digambarkan sebagai berikut :
3.
Keseluruhan
Konsep Countenance
Keseluruhan model countenance ini digambarkan
sebagai berikut :
|
Antecendents
yang direncanakan
|
|
Antecendents
yang teramati
|
congruence
Contingency
Logis
Contingency
Empirik
|
Transaksi
yang teramati
|
|
Transaksi
yang direncanakan
|
congruence
Contingency Logis
Contingency
Empirik
|
Hasil yang
teramati
|
|
Hasil yang
diharapkan
|
congruence
Cara kerja model evaluasi Stake,
evaluator mengumpulkan data mengenai apa yang diinginkan pengembang program
baik yang berhubungan dengan kondisi awal, transaksi, dan hasil. Data dapat
dikumpulkan melalui studi dokumen dapat pula melalui wawancara.
Analisis logis diperlukan dalam
memberikan pertimbangan mengenai keterkaitan antara prasyarat awal, transaksi,
dan hasil dari kotak-kotak tujuan. Evaluator harus dapat menentukan apakah
prasyarat awal yang telah dikemukakan pengembang program akan tercapai dengan
rencana transaksi yang dikemukakan. Atau sebetulnya ada model transaksi lain
yang lebih efektif. Demikian pula mengenai hubungan antara transaksi dengan
hasil yang diharapkan. Analisis kedua adalah analisis empirik. Dasar bekerjanya
sama dengan analisis logis tapi data yang digunakan adalah data empirik.
Pekerjaan evaluator berikutnya
adalah mengadakan analisis congruence (kesesuaian) antaraapa yang dikemukakan
dalam tujuan (inten) dengan apa yang terjadi dalam kegiatan (observasi). Perlu
diperhatikan apakah yang telah direncanakan dalam tujuan sesuai dengan
pelaksanaanya di lapangan atau terjadi penyimpangan-penyimpangan.
Apabila analisis contingency
dan congruence tersebut telah selesai, maka evaluator menyerahkannya kepada tim
yang trerdiri dari para ahli dan orang yang terllibat dalam program. Tim ini
yang akan meneliti kesahihan hasil analilsis evaluator dan memberikan
persepsinya mengenai faktor penting baik dalam contingency maupun congruence.
e. Model CIPP
Model ini dikembangkan sebuah tim yang diketuai Stufflebeam yang bekerja
sebagai profesordi Ohio State University. Meskipun demikian tim yang
dipimpinnya terdiri dari para sarjana bekerja di berbagai universitas, salah
satunya, Gephart, bekerja di Phi Delta Kappa (PDK). Organisasi tersebut yang
bertindak sebagai sponsor.
|
Evaluator mengidentifikasi berbagai faktor guru,
peserta didik, manaje men, fasilitas kerja, suasana kerja, peraturan, peran
komite sekolah, masyarakat, dan faktor lain yang mungkin berpengaruh
terhadap kurikulum
|
Nama CIPP lebih dikenal masyarakat perguruan tinggi dan kalangan evaluator
karena langsung menunjukkan karakteristik model yang dimaksud, Context, Input,
Process, dan Product.
|
CONTEXT
|
|
PROCESS
|
|
Evaluator
mengumpulkan berbagai informasi mengenai keterlaksanaan kurikulum, berbagai
kekuatan dan kelemahan dalam kekuatan proses inflementasi. Evaluator harus
merekam berbagaipengaruh variable input terhadap proses.
|
|
INPUT
|
|
Evaluator
menentukan tingkat pemanfaatan berbagai faktor yang dikaji dalam konteks
pelaksanaan kurikulum. Pertimbangan mengenai ini menjadi dasar bagi evaluator
untuk menentukan apakah perlu ada revisi atau penggantian kurikulum
|
|
Evaluator
mengumpulkan berbagai informasi mengenai hasil belajar, membandingkannya
dengan standard an mengambil keputusan mengenai status kurikulum (direvisi,
diganti, atau dilanjutkan
|
|
PRODUCT
|
Gambar 8.5 : Fokus Evaluasi Model
CIPP
Tujuan evaluasi konteks yang utama ialah untuk
mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh evaluan (Stufflebeam, 1983:128).
Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan ini, evaluator dapat memberikan arah
perbaikan yang diperlukan. Model CIPP membantu suatu satuan pendidikan untuk
memutuskan apakah satuan pendidikan tersebut memerlukan suatu inovasi atau
tidak. Apabila perlu, evaluator yang menggunakan model CIPP diharapkan dapat
menentukan skala inovasi yang diperlukan.
Dalam pelaksanaannya, evaluasi proses dari model CIPP bertujuan memperbaiki
keadaan yang ada. Evaluator diminta untuk menentukan sampai sejauh mana rencana
inovasi kurikulum dilaksanakan di lapangan, hambatan-hambatan apa yang ditemui
yang tidak diperkirakan sebelemnya, dan perubahan-perubahan apa yang
harus dilakukan terhadap inovasi kurikulum tersebut. Evaluasi hasil adalah
evaluasi berikutnya dalam model CIPP. Tujuan utamanya untuk menentukansampai
sejauh mana kurikullum yang diimplementasikan tersebut telah dapat
memenuhi kebutuhan kelompok yang menggunakannya (Stufflebeam, 1983:134).
Ruang lingkup kajian terhadap pengaruh berbagai faktor dalam model fokus
evaluasi hasil CIPP memberikan kesan seolah-olah ada pengaruh model evaluasi
Goal Free dari Scriven. Suatu hal yang pasti dan diakui oleh Stufflebeam
terdapat perbedaan pandangan mengenai peran evaluasi yang cukup prinsipil
antara dia dengan Scriven. Model CIPP lebih menekankan pada peran sumatif
sedangkan model Scriven, baik formatif-sumatif maupun Goal Free, sangat
memberikan perhatian yang besar terhadap peran formatif.
Karena sifatnya yang sangat menekankan fungsi sumatif ketika berkaitan dengan
evaluasi produk, sangat berbahaya kalau evaluasi produk dalam model CIPP
dilakukan secara terpisah dengan evaluasi proses dan masukan. Keterbatasan
ruang lingkup evaluasi produk merupakan hambatan sehingga informasi yang
diberikannya tidak cukup kuat untuk digunakan sebagai landasan dalam menentukan
nasib suatu inovasi kurikulum.
Adanya kelemahan tersebut bukannya tidak disadari oleh Stufflebeam. Stufflebeum
menyadari kelemahan dalam fokus pada evaluasi produk, dan oleh karena itu ia
menganjurkan, kalaulah jenis-jenis evaluasi yang ada dalam CIPP akan dilakukan
tidak secara utuh, sebaiknya pekerjaan evaluasi menggabungkan dua atau lebih
dari jenis evaluasi yang ada untuk mengurangi kelemahan di atas.
|
Instalasi
solusi
|
|
Kegiatan
rutin
rutin
|
Secara keseluruhan prosedur lengkap evaluasi CIPP dapat digambarkan
sebagai berikut :
|
Ya k
|
|
Ya k
|
|
Tidak k
|
|
Peruba han
han
|
|
Definisikan
ma salah dan rumus kan tujuan
|
|
Peru bahan
|
|
Evaluasi konteks
|
|
Tidak k
|
|
Evaluasi
masukan
|
|
Ya k
|
|
Tidak k
|
|
Strategi
di temukan
|
|
Perlu peng
embangan
|
|
Ya k
|
|
Implementasi
|
|
Evaluasi
proses dan hasil
|
|
Ya k
|
|
Solusi di
perlukan
|
|
Memuas kan
?
|
|
Ya k
|
|
Tidak k
|
|
Tidak k
|
|
Dilanjutkan
|
|
Batalkan
|
|
Tidak k
|
4. Model Ekonomi Mikro
Model ekonomi mikro pada dasarnya adalah model yang menggunakan pendekatan
kuantitatif, yang memiliki fokus utama pada hasil (hasil dari pekerjaan, hasil
belajar, dan hasil yang diperkirakan). Pertanyaan besar dari model ekonomi
mikro adalah apakah hasil belajar yang diperoleh peserta didik sesuai dengan
dana yang telah dikeluarkan. Menurut Levin (1983:17) ada empat model di
lingkungan ekonomi mikro yaitu cost-effectiveness, cost benefit, cost-utility,
dan cost feasibility. Dari keempat model ini maka model cost-effectiveness yang
paling sesuai untuk evaluasi kurikulum.
Evaluator yang menerapkan model cost effectiveness harus dapat membandingkan
dua program atau lebih, baik dana yang digunakan masing-masing program maupun
hasil yang diakibatkan oleh setiap program. Perbandingan hasil dari kedua
program tadi akan memberikan masukan bagi para pembuat keputusan mengenai
program mana yang lebih menguntungkan dilihat dari hubungan antara dana dan
hasil.
5. Model Evaluasi Kualitatif
Model ini menggunakan metodologi kualitatif dalam pengumpulan data evaluasi.
Menurut Reicchardt dan Cook (1979:9), dan Patton (1980:44-45) metodologi
kualitatif berkembang dari filsafat fenomenologi. Selain penggunaan metodologi
kualitatif, cirri khas lain dari model evaluasi kualitatif ialah selalu
menempatkan proses pelaksanaan kurikulum sebagai fokus utama evaluasi. Oleh
karena itu, kurikulum dalam dimensi kegiatan lebih mendapatkan perhatian
dibandingkan dimensi lain, tetapi tidak menyebabkan pengabaian evaluasi
terhadap dimensi lain. Model utama evaluasi kualitatif adalah studi kasus. Ada
tiga model evaluasi kualitatif :
a. Model Studi Kasus
Model ini memusatkan perhatiannya kepada kegiatan pengembangan kurikulum di
satu satuan pendidikan. Unit tersebut dapat saja berupa satu sekolah, satu
kelas bahkan hanya seorang guru atau kepala sekolah. Karakteristik model ini
adalah data yang dikumpulkan terutama adalah data kualitattatif. Data
kualitatif kaya dengan deksripsi dan dianggap lebih memberikan makna
dibandingkan data kuantitatif. Data kualitatif dianggap lebih dapat
mmengungkapkan apa yang terjadi di lapangan. Proses yang direkam tidak
dinyatakan dengan angka tetapi dengan ungkapan menggambarkan
peristiwa-peristiwa dalam proses sebagai suatu rangkaian berkesinambungan. Meskipun
demikian, model studi kasus tidak menolak pemakaian data kuantitatif apabila
data tersebut memang diperlukan.
Dalam menggunakan model evaluasi studi kasus, tindakan pertama yang harus
dilakukan evaluator ialah familiarisasi dirinya terhadap kurikulum yang dikaji.
Familiarisasi ini sangat penting sehingga dapat dikatakan bahwa evaluator yang
tidak familiar terhadap kurikulum dan lingkungan satuan pendidikan yang
mengembangkan dan melaksanakan kurikulum tidak boleh melakukan evaluasi.
b. Model Illuminatif
Model evaluasi illuminatif
mendasarkan dirinya pada paradigm antropologi sosial. Model illuminatif
memberikan perhatian terhadap lingkungan luas dan bukan hanya kelas dimana
suatu inovasi kurikulum dilaksanakan. Bagi Indonesia, perhatian yang luas
dari model illuminatif memberikan kemungkinan pemahaman terhadap KTSP suatu
satuan pendidikan yang lebih baik.
Ada dua dasar konsep utama, yaitu sistem instruksi (instructional system) dan
lingkungan belajar (learning milieu). Sistem instruksional disina diartikan
sebagai “katalog, perspektus dan laporan-laporan kependidikan yang secara
khusus berisi berbagai macam rencana dan pernyataan yang resmi berhubungan
dengan pengaturan dan pengajaran.
c. Model Responsive
Model ini merupakan pengembangan lebih lanjut model countenancenya Stake,
meskipun beberapa hal terdapat perbedaan yang prinsipil. Pertama, model
countenance mempunyai fokus yang lebih luas dibanding model responsive. Model
countenance memberikan perhatian terhadap kurikulum sebagai suatu rencana,
dalam model responsive, fokus yang demikian sudah ditinggalkan.
Perbedaan kedua ialah dalam pendekatan pengembangan kriteria. Model countenance
berdasarkan pengembangan kriteria fidelity, model responsive mengembangkan
kriterianya berdasarkan pendekatan proses. Model responsive tidak
berbicara tentang pemakaian instrumen standar, tetapi memberikan perhatian yang
besar interaaksi antara evaluator dengan pelaksana kurikulum. Tanpa interaksi
tidak satupun “isu” yang dapat diungkapkan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Model-model evaluasi yang begitu beragam memberikan kesempatan kepada evaluator
untuk mempertimbangkan model yang mana yang paling sesuai digunakan sesuai
dengan ruang lingkup tugas masing-masing, apakah bidang pendidikan, potlitik,
ekonomi, dan lain-lain. Tidak dapat dipungkiri antara satu model evaluasi
dengan model evaluasi lain memiliki kelemahan dan keunggulan, hal ini harus dipertimbangkan
untuk menggunakan model yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
Tidak menutup kemungkinan, dengan mengetahui model-model yang ada, evaluator
dapat mengembangkan modelnya sendiri. Dengan demikian model-model evaluasi
dapat lebih berkembang lagi, apalagi disesuaikan dengan kultur yang ada di
Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan, S. Hamid, 2009, Evaluasi Kurikulum, PT REMAJA
ROSDAKARYA, Bandung.
Sanjaya, Wina, 2008, Kurikulum dan Pembelajaran : Teori dan
Praktik Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP), Pranada Media Group, Bandung.
Nasution, S, 2006, Kurikulum dan Pengajaran, Bumi Aksara, Jakarta.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada
Allah swt yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya , sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas makalah yang sangat sederhana ini, tentang Peranan Evaluasi
Kurikulum dan Model-model Evaluasi Kurikulum.
Adapun tujuan penyusunan makalah ini
salah satunya untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Kurikulum dan Strategi
Pembelajaran Biologi. Disamping itu tentunya penulis berharap menda- patkan
tambahan ilmu di bidang kurikulum, ketrampilan, dan pengalaman dalam penyusunan
makalah.
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada dosen DR Hasruddin , M.Pd dan DR Elly Djulia , M.Pd sebagai dosen
pengampu mata kuliah ini yang telah membimbing penulis perkuliahan dan dalam
penyususnan makalah ini. Terima kasih kepada teman-teman kuliah yang selalu
bersedia berdiskusi dan saling memotivasi, di sela-sela perjumpaan yang sangat
terbatas waktunya.
Sadar akan keterbatasan dan
kemampuan yang penulis miliki, maka penulis mohon maaf atas segala kekurangan
yang terdapat dalam penyusunan makalah ini. Saran dan kritik penulis harapkan
untuk meningkatkan bobot makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini
bermanfaat.
Kendari, 23 April 2011
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANT.........……………………………………………………….……….…. i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….... ii
BAB I
PENDAHULUAN...………………………………………………………….…………... 1
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………….. 2
A. Peranan Evaluasi Kurikulum ………….……………………………………………… 2
B. Jenis-Jenis Evaluasi ………………………………….……………………
………..... 2
C. Model-Model Evaluasi Kurikulum ……………….……….
…….………………….... 5
D. Model Countenance Stake………...……..………………………………….………… 8
1. Matriks Deskripsi…………………………...………………..………………………9
2. Matriks Pertimbangan
…………………………………………………………......…..9
3. Keseluruhan Konsep Countenance…………………….
…………………...……..10
BAB III KESIMPULAN …..…………………………………………………………………..17
DAFTAR PUSTAKA ………………………….………………………………………………18







Geen opmerkings nie: